Tidak Seburuk Itu
Dia selalu punya kebiasaan aneh.
Setiap kali berhasil melakukan sesuatu, dia selalu merasa itu bukan hal besar.
Dan setiap kali gagal sedikit saja, dia merasa dirinya memang tidak cukup bagus.
Lucunya, kebiasaan itu sudah ada sejak lama.
Waktu sekolah, saat nilainya bagus, dia bilang:
“Ah kebetulan doang.”
Waktu berhasil menyelesaikan project:
“Masih banyak yang lebih jago.”
Waktu orang lain memuji hasil kerjanya:
“Biasa aja kok.”
Awalnya terdengar rendah hati.
Tapi lama-lama dia sadar… itu bukan rendah hati.
Dia memang benar-benar tidak pernah menganggap dirinya cukup.
Dia selalu melihat orang lain lebih hebat dari dirinya.
Kalau ada yang jago coding, dia merasa tertinggal.
Kalau ada yang lebih cepat sukses, dia merasa gagal.
Kalau ada yang lebih pintar bicara, dia langsung merasa dirinya membosankan.
Dan tanpa sadar, dia terus mengecilkan dirinya sendiri setiap hari.
Sampai suatu malam di kantor, saat semua orang sudah pulang, dia masih duduk sendirian di depan layar laptop.
Project yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi tetap dia lihat berulang-ulang.
Dia takut hasilnya jelek.
Takut dianggap tidak becus.
Takut ternyata kemampuannya memang tidak cukup.
Padahal sejak awal project itu bahkan tidak ada masalah.
Lampu ruangan sebagian sudah dimatikan.
Suasana kantor mulai sepi.
Dia menarik napas panjang lalu bersandar pelan di kursinya.
Capek.
Bukan karena pekerjaannya.
Tapi karena pikirannya sendiri.
Kadang musuh terbesar memang bukan orang lain.
Melainkan suara kecil di kepala yang terus berkata:
“Lu belum cukup bagus.”
Padahal kalau dipikir-pikir lagi…
Tidak semua orang bisa bertahan sejauh dirinya sekarang.
Tidak semua orang bisa belajar sendirian sampai larut malam.
Tidak semua orang tetap mencoba walau berkali-kali gagal.
Dia menatap pantulan dirinya di layar laptop yang mulai gelap karena sleep mode.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, dia sadar satu hal.
Mungkin dirinya memang belum sempurna.
Masih banyak kurangnya.
Masih banyak yang harus dipelajari.
Tapi bukan berarti dirinya tidak punya kemampuan sama sekali.
Kadang kita terlalu sibuk melihat hebatnya orang lain, sampai lupa kalau diri sendiri juga sudah berjalan cukup jauh.
Dan mungkin… kita memang tidak seburuk itu.