Pelan-Pelan Menghilang
Awalnya dia bukan orang yang tertutup.
Dulu dia gampang tertawa. Gampang cerita. Gampang dekat dengan orang baru.
Kalau ada masalah, dia selalu punya tempat pulang untuk bercerita.
Setidaknya dulu begitu.
Sampai hidup pelan-pelan mengubah banyak hal.
Beberapa orang yang dia percaya mulai pergi.
Beberapa cerita yang dia bagikan justru jadi bahan candaan.
Dan beberapa rasa kecewa datang dari tempat yang paling tidak dia duga.
Sejak saat itu, dia mulai berubah.
Bukan tiba-tiba jadi dingin.
Tapi pelan-pelan.
Sangat pelan sampai bahkan orang lain tidak sadar.
Dia mulai jarang cerita.
Mulai sering bilang:
“Gapapa.”
padahal sebenarnya banyak yang tidak baik-baik saja.
Dia mulai membalas chat seperlunya.
Mulai menghindari pertemuan.
Mulai nyaman sendirian.
Awalnya semua orang mengira dia hanya sibuk.
Padahal sebenarnya dia sedang lelah membuka diri lagi dan lagi.
Karena setiap kali mencoba dekat, selalu ada rasa takut:
“Nanti kecewa lagi nggak ya?”
Malam itu dia duduk sendirian di balkon kamar sambil memandang jalanan yang mulai sepi.
Angin malam terasa dingin.
Ponselnya bergetar beberapa kali. Ada ajakan nongkrong. Ada pesan masuk. Ada beberapa notifikasi yang belum dibalas sejak kemarin.
Dia hanya melihat layar sebentar lalu mematikannya lagi.
Bukan karena membenci mereka.
Bukan juga karena merasa lebih baik sendirian.
Tapi kadang terlalu banyak berinteraksi terasa melelahkan.
Apalagi setelah terlalu sering kecewa.
Dia sadar dirinya berubah.
Sekarang dia lebih memilih diam daripada menjelaskan.
Lebih memilih memendam daripada berharap dimengerti.
Lebih memilih sendiri daripada harus merasa asing di tengah keramaian.
Dan lucunya… semakin lama dia menutup diri, semakin orang-orang berpikir dia baik-baik saja.
Padahal sebenarnya tidak.
Hanya saja dia sudah terlalu capek untuk menjelaskan isi kepalanya ke orang lain.
Dia menarik napas panjang sambil menatap langit malam yang kosong.
Kadang dia juga rindu versi dirinya yang dulu.
Versi yang masih gampang percaya sama orang.
Versi yang masih berani cerita tanpa takut diabaikan.
Versi yang belum belajar kalau tidak semua orang benar-benar peduli.
Tapi hidup memang begitu.
Ada beberapa luka yang tidak membuat seseorang menangis.
Hanya membuatnya perlahan memilih menjauh dari semuanya.