Aku Butuh Waktu
Hujan turun perlahan sore itu.
Langit berwarna abu-abu, seolah ikut menahan sesuatu yang tidak sanggup dijatuhkan sekaligus.
Thor duduk berhadapan dengan Sif di sebuah kedai kopi kecil yang sudah beberapa kali mereka datangi bersama.
Tempat yang sama.
Minuman yang hampir sama.
Percakapan yang biasanya selalu mengalir tanpa arah.
Tapi tidak sore itu.
Karena hari itu berbeda.
Hari itu Thor datang membawa sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan.
Tangannya terasa dingin meskipun secangkir kopi hangat masih mengepul di depannya.
Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia tidak tahu harus memulai dari mana.
Sif yang duduk di depannya terlihat biasa saja.
Masih dengan senyum yang sama.
Masih dengan cara berbicara yang selalu membuat Thor lupa waktu.
Mungkin itu juga alasan kenapa semuanya menjadi sejauh ini.
Karena tanpa sadar, Thor telah jatuh terlalu dalam.
Bukan dalam hitungan hari.
Bukan juga minggu.
Melainkan berbulan-bulan.
Berbulan-bulan menemani.
Berbulan-bulan mendengarkan cerita.
Berbulan-bulan menjadi orang yang selalu ada ketika Sif membutuhkan seseorang.
Dan hari itu, dia lelah menyimpan semuanya sendiri.
Thor menarik napas panjang.
Lalu akhirnya berkata,
"Ada sesuatu yang pengen aku omongin."
Sif menatapnya.
"Hmm?"
Thor tersenyum gugup.
Senyum yang bahkan dia sendiri sadar terlihat aneh.
"Aku suka sama kamu, Sif."
Kalimat itu akhirnya keluar.
Kalimat yang selama ini hanya hidup di kepalanya sendiri.
Dan setelah itu...
Dunia terasa sunyi.
Tidak ada suara hujan.
Tidak ada suara mesin kopi.
Tidak ada suara orang-orang di sekitar.
Thor hanya melihat wajah Sif yang perlahan berubah.
Terlihat kaget.
Sangat kaget.
Sampai beberapa detik perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.
Thor mencoba tersenyum untuk mengurangi ketegangan.
Tapi dalam hatinya mulai muncul rasa takut.
Sif menunduk sebentar.
Lalu kembali menatapnya.
"Aku nggak nyangka kamu bakal ngomong ini."
Thor tertawa kecil.
"Jujur aku juga nggak nyangka bakal seberani ini."
Mereka sama-sama tersenyum.
Tapi suasananya berbeda.
Thor bisa merasakannya.
Dan beberapa detik kemudian, Sif berkata pelan,
"Aku butuh waktu buat mikirin ini."
Hanya itu.
Tidak ada iya.
Tidak ada tidak.
Hanya sebuah kalimat sederhana.
Tapi cukup untuk membuat Thor pulang dengan harapan.
Karena menurutnya, kalau memang tidak ada kesempatan, mungkin Sif bisa langsung menolak saat itu juga.
Setidaknya begitu yang dia yakini.
Hari-hari setelahnya berjalan seperti biasa.
Mereka masih saling mengirim pesan.
Masih saling bertukar cerita.
Masih bercanda seperti biasanya.
Dan perlahan, harapan itu mulai tumbuh semakin besar.
Thor mulai membayangkan banyak hal.
Mungkin Sif memang hanya butuh waktu.
Mungkin dia sedang mempertimbangkan.
Mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Sampai dua hari terakhir.
Pekerjaan di kantor sedang kacau.
Meeting bertumpuk.
Deadline datang bersamaan.
Laptop hampir tidak pernah tertutup.
Ponselnya bahkan sering tertinggal di meja kerja berjam-jam.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Thor benar-benar sibuk.
Begitu sibuk sampai tidak sempat memikirkan apa pun selain pekerjaan.
Hari itu dia pulang ketika langit sudah gelap.
Tubuhnya terasa lelah.
Pundaknya berat.
Yang dia inginkan hanya mandi lalu tidur.
Sebelum itu, dia membuka ponsel sebentar.
Hanya sebentar.
Dan semuanya berubah.
Di layar muncul sebuah unggahan baru.
Unggahan milik Sif.
Awalnya Thor tersenyum kecil.
Dia mengira itu foto makanan.
Atau pemandangan.
Atau hal-hal random yang biasa diunggah Sif.
Tapi ternyata bukan.
Itu foto Sif.
Bersama seorang laki-laki.
Tersenyum.
Sangat bahagia.
Di bawahnya ada tulisan sederhana.
Tidak panjang.
Tidak berlebihan.
Tapi cukup untuk menjelaskan segalanya.
Mereka resmi bersama.
Thor diam.
Matanya terus menatap layar.
Berusaha memahami apa yang sedang dia lihat.
Seminggu.
Baru seminggu.
Seminggu lalu dia mengungkapkan perasaannya.
Seminggu lalu Sif berkata,
"Aku butuh waktu buat mikirin ini."
Dan ternyata waktu yang dibutuhkan bukan untuk memilih.
Karena pilihannya mungkin sudah ada sejak awal.
Thor menutup aplikasi itu perlahan.
Lalu meletakkan ponselnya di samping tempat tidur.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada amarah.
Hanya rasa kosong yang sulit dijelaskan.
Rasa ketika semua usaha yang selama ini diberikan tiba-tiba terasa tidak memiliki tujuan.
Dia teringat semua hal yang pernah dilakukan.
Waktu yang diluangkan.
Perhatian yang diberikan.
Cerita yang didengarkan.
Semua hal kecil yang selama ini dia pikir berarti sesuatu.
Mungkin memang berarti.
Hanya saja tidak cukup untuk membuat seseorang memilihnya.
Malam semakin larut.
Lampu kamar sudah dimatikan.
Dan di tengah gelap yang sunyi itu, Thor akhirnya memahami satu hal.
Kadang yang paling menyakitkan bukan penolakan.
Karena penolakan memberikan kepastian.
Yang paling menyakitkan adalah harapan yang dibiarkan tumbuh.
Diberi ruang untuk hidup.
Dibiarkan berkembang.
Sampai akhirnya mati oleh kenyataan yang bahkan tidak pernah dipersiapkan sebelumnya.
Di luar jendela, hujan kembali turun.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, Thor berharap satu hal sederhana.
Andai waktu itu Sif cukup berkata tidak.
Mungkin sakitnya akan jauh lebih cepat selesai.