Kembali
Cerpen — 29 Mei 2026

Setelah Berhenti Menunggu

Setelah Berhenti Menunggu

Awalnya dia tidak sadar.

Karena proses melupakan seseorang ternyata tidak seperti yang sering diceritakan orang-orang.

Tidak ada tanggal pasti.

Tidak ada momen dramatis.

Tidak ada pagi hari ketika bangun lalu tiba-tiba semua rasa hilang begitu saja.

Nyatanya, semuanya terjadi perlahan.

Sangat perlahan.

Sampai suatu hari dia baru sadar bahwa dirinya sudah berada jauh dari tempat yang dulu.

Sudah hampir enam bulan sejak hari itu.

Sejak hari ketika Sif berkata:

"Aku butuh waktu buat mikirin ini."

Dan seminggu setelahnya mengunggah foto bersama laki-laki lain.

Enam bulan.

Waktu yang dulu terasa mustahil untuk dilewati.

Karena pada minggu-minggu pertama, hampir semuanya mengingatkan Thor pada Sif.

Lagu tertentu.

Tempat tertentu.

Bahkan secangkir kopi yang biasa mereka pesan.

Dan yang paling parah adalah kebiasaan.

Karena ternyata yang paling sulit dilupakan bukan orangnya.

Melainkan kebiasaan yang ia tinggalkan.

Thor masih sering membuka profil Sif saat itu.

Awalnya setiap hari.

Lalu dua hari sekali.

Lalu seminggu sekali.

Lalu hanya ketika sedang merasa rindu.

Sampai akhirnya dia bahkan tidak sadar kapan terakhir kali melakukannya.

Hari itu kantor sedang tidak terlalu sibuk.

Matahari mulai turun di balik gedung-gedung kota.

Thor duduk sendirian di cafetaria kantor sambil menikmati kopi yang mulai dingin.

Beberapa rekan kerja duduk tidak jauh darinya.

Mengobrol tentang banyak hal.

Sampai salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya.

"Eh Thor."

"Hmm?"

"Sif gimana kabarnya sekarang?"

Thor yang sedang menatap laptop langsung berhenti.

Pertanyaan sederhana.

Pertanyaan yang dulu pasti bisa langsung dia jawab.

Karena dulu dia tahu semuanya.

Tahu aktivitasnya.

Tahu tempat favoritnya.

Tahu lagu yang sedang dia dengarkan.

Tahu apa yang dia lakukan hari itu.

Tapi sore itu berbeda.

Thor diam beberapa detik.

Mencoba mengingat.

Lalu tersenyum kecil.

"Gatau."

Temannya tertawa.

"Masa sih?"

Thor ikut tertawa pelan.

"Gatau beneran."

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, dia menyadari sesuatu.

Dia benar-benar tidak tahu.

Dia tidak tahu Sif sedang di mana.

Tidak tahu sedang melakukan apa.

Tidak tahu masih bersama orang yang sama atau tidak.

Tidak tahu kabar terbarunya.

Dan anehnya...

Tidak ada rasa panik.

Tidak ada dorongan untuk langsung membuka media sosial.

Tidak ada keinginan mencari tahu.

Tidak ada apa-apa.

Hanya perasaan biasa saja.

Thor bersandar pelan di kursinya.

Matanya mengarah ke langit senja di luar jendela.

Sambil tersenyum kecil.

Karena tiba-tiba dia sadar.

Mungkin inilah yang namanya sembuh.

Bukan ketika kita melupakan seseorang.

Karena beberapa orang memang tidak akan pernah benar-benar terlupakan.

Melainkan ketika kita tidak lagi merasa perlu mencarinya.

Tidak lagi merasa perlu mengetahui kabarnya.

Tidak lagi berharap namanya muncul di layar ponsel.

Tidak lagi menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah lama selesai.

Thor menatap pantulan dirinya di kaca.

Versi dirinya yang dulu mungkin akan sedih melihat semua ini.

Karena dulu dia mengira mencintai seseorang berarti terus menunggunya.

Terus berharap.

Terus bertahan.

Tapi sekarang dia mengerti.

Ada saatnya menunggu berubah menjadi menyakiti diri sendiri.

Dan ada saatnya melepaskan menjadi bentuk kasih sayang terbesar yang bisa diberikan.

Bukan kepada orang lain.

Melainkan kepada diri sendiri.

Langit mulai gelap.

Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.

Thor menutup laptopnya lalu berdiri.

Sebelum berjalan pergi, ponselnya sempat bergetar.

Sebuah notifikasi masuk.

Dia melirik sebentar.

Lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku tanpa membukanya.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

hidupnya tidak lagi berputar di sekitar seseorang yang memilih pergi.

Dan mungkin, tanpa dia sadari,

hari itu adalah hari pertama sejak lama di mana dia benar-benar berhenti menunggu.

Related Articles

Cerpen