Teman Terbaik
“Gw capek.”
Kalimat itu keluar pelan dari mulutnya sambil menatap layar laptop yang masih menyala sejak sore. Notifikasi terus masuk. Deadline belum selesai. Pesan belum dibalas. Kepala penuh. Hati lebih penuh lagi.
Kadang hidup memang aneh.
Kita bisa dikelilingi banyak orang, tapi tetap merasa sendirian.
Malam itu dia membuka kontak seseorang. Mengetik sesuatu. Menghapusnya lagi. Berkali-kali.
Bukan karena tidak ada yang bisa diajak bicara.
Tapi karena dia sadar, tidak semua orang benar-benar mengerti apa yang sedang dia rasakan.
Akhirnya laptop ditutup.
Lampu kamar dimatikan sebagian.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, dia memilih diam tanpa musik, tanpa video, tanpa distraksi apa pun.
Hanya suara kipas kamar dan pikirannya sendiri.
Awalnya menakutkan.
Karena saat sunyi datang, semua yang selama ini ditahan ikut muncul:
- rasa gagal
- rasa takut
- rasa kecewa
- rasa lelah
Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang baru dia sadari.
Selama ini dia terlalu sibuk mencari tempat pulang di orang lain.
Padahal setiap kali semuanya berantakan, yang selalu tetap bertahan ya dirinya sendiri.
Dirinya yang tetap bangun walau capek.
Dirinya yang tetap mencoba walau takut gagal.
Dirinya yang diam-diam bertahan bahkan saat tidak ada yang tahu.
Dan malam itu dia akhirnya mengerti.
Sebenarnya, teman terbaik untuk dirinya sendiri… ya dirinya sendiri.
Bukan berarti tidak butuh orang lain.
Tapi ada titik di mana kita harus bisa duduk bersama diri sendiri tanpa merasa asing.
Karena pada akhirnya: orang datang dan pergi, keadaan berubah, hidup naik turun.
Tapi diri kita sendiri akan selalu ada sampai akhir.
Malam semakin larut.
Dia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah lama, sunyi tidak terasa seseram itu.