Kembali
Cerpen — 28 Mei 2026
TemanMusiman

Teman Musiman

Teman Musiman

Dulu dia percaya kalau pertemanan itu soal “selalu ada”.

Tapi makin dewasa, dia mulai sadar: kadang orang datang bukan untuk menetap.

Kadang mereka cuma datang karena keadaan sedang cocok saja.

Waktu sekolah ramai.

Waktu nongkrong seru.

Waktu satu tongkrongan.

Waktu satu game.

Waktu satu organisasi.

Waktu satu kepentingan.

Dan saat semua itu selesai… pelan-pelan mereka ikut hilang.

Awalnya dia selalu menyalahkan diri sendiri.

“Mungkin gw kurang asik.”

“Mungkin gw terlalu pendiam.”

“Mungkin gw ada salah.”

Sampai suatu hari dia sadar: tidak semua hubungan memang ditakdirkan untuk bertahan lama.

Ada orang yang hadir hanya untuk satu fase kehidupan.

Dan itu bukan berarti semuanya palsu.

Mungkin memang masanya sudah selesai saja.

Dia ingat dulu hampir setiap malam mereka ngobrol sampai pagi. Bahas masa depan. Bahas mimpi. Bahas hidup.

Sekarang?

Story dilihat pun kadang tidak.

Chat terakhir bahkan sudah berbulan-bulan lalu.

Lucunya, orang yang dulu bilang: “Kalau ada apa-apa cerita aja.”

justru jadi orang yang paling asing sekarang.

Dan ternyata begitulah hidup berjalan.

Orang berubah.

Kesibukan berubah.

Lingkungan berubah.

Prioritas juga berubah.

Tidak semua orang yang pernah dekat akan tetap tinggal.

Ada yang datang saat hidup kita ramai.

Lalu pergi ketika semuanya mulai biasa saja.

Awalnya dia sedih soal itu.

Tapi lama-lama dia mulai mengerti: teman musiman bukan berarti teman yang buruk.

Mereka tetap pernah memberi tawa.

Tetap pernah jadi bagian cerita hidup.

Tetap pernah membuat hari-hari terasa lebih ringan.

Hanya saja… mereka memang tidak ditakdirkan tinggal lebih lama.

Dan mungkin itu yang paling sulit diterima saat dewasa.

Bahwa tidak semua orang yang datang itu untuk selamanya.

Beberapa hanya mampir sebentar, lalu melanjutkan perjalanan mereka sendiri.

Malam itu dia membuka chat lama sambil tersenyum kecil.

Tidak marah.

Tidak kecewa lagi.

Hanya sedikit rindu pada versi hidup yang dulu pernah terasa begitu hangat.

Related Articles

Cerpen