Pesan yang Tidak Pernah Terkirim
Hujan turun pelan di luar kaca cafetaria kantor.
Jam di dinding sudah menunjukkan hampir magrib. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, sementara langit perlahan berubah gelap.
Thor masih duduk di sudut dekat jendela.
Laptop di depannya sudah mati sejak setengah jam lalu. Kopi yang tadi hangat sekarang tinggal dingin setengah gelas.
Tapi dia belum pulang.
Entah karena malas menghadapi jalanan basah, atau memang karena ada sesuatu yang sejak tadi menahan dirinya tetap di sana.
Tangannya memegang ponsel.
Layar chat terbuka.
Nama itu masih sama.
“Sif.”
Sudah lama sebenarnya mereka tidak berbicara.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada saling membenci.
Mereka hanya… selesai.
Dan kadang, hal yang selesai tanpa penjelasan justru lebih susah dilupakan.
Thor mulai mengetik.
“Kamu gimana?”
Diam sebentar.
Lalu dihapus.
Dia mengetik lagi.
“Hujan gini jadi inget dulu.”
Dihapus lagi.
Jari-jarinya berhenti di atas keyboard ponsel cukup lama sebelum akhirnya dia menaruh ponselnya pelan.
Lucu memang.
Kadang yang paling susah bukan melupakan seseorang.
Tapi melawan keinginan untuk menghubunginya lagi.
Di luar, hujan mulai sedikit lebih deras.
Thor berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati kaca besar di depan cafetaria.
Dari sana kota terlihat samar tertutup rintik hujan dan lampu kendaraan.
Dan di tengah pantulan kaca itu…
dia melihat seseorang berdiri di luar.
Perempuan dengan hoodie abu-abu yang sangat familiar.
Rambut panjang yang sedikit basah karena hujan.
Thor membeku.
“Sif…?”
Perempuan itu menoleh pelan sambil tersenyum kecil.
Senyum yang dulu selalu berhasil membuat harinya terasa lebih ringan.
Thor segera keluar dari cafetaria tanpa terlalu peduli hujan mulai membasahi bajunya.
Begitu sampai di depan, perempuan itu masih berdiri di sana.
Hanya beberapa langkah dari dirinya.
Untuk beberapa detik mereka cuma diam.
Seolah waktu tiba-tiba mundur ke beberapa tahun lalu.
Thor tersenyum kecil.
“Kamu masih suka hujan ya…”
Sif tertawa pelan.
“Dan kamu masih suka ngeliatin hujan dari balik kaca.”
Thor menunduk kecil sambil tertawa tipis.
Masih sama. Bahkan cara bicaranya pun masih sama.
Hujan terus turun di sekitar mereka.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya setelah lama, Thor merasa semuanya baik-baik saja lagi.
Seolah semesta memberinya satu kesempatan kecil untuk mengulang sesuatu yang dulu hilang.
Thor menarik napas pelan.
“Sif… sebenarnya ada banyak hal yang pengen aku—”
“Mas…”
Suara itu tiba-tiba memotong semuanya.
Thor membuka mata pelan.
Lampu cafetaria sudah sebagian dimatikan.
Seorang pelayan berdiri di samping mejanya.
“Mas… maaf, cafetarianya mau tutup.”
Thor diam beberapa detik.
Pandangannya kosong menatap kaca depan.
Tidak ada siapa-siapa di luar.
Hanya hujan.
Dan pantulan dirinya sendiri.
Tangannya perlahan menggenggam ponsel yang masih terbuka sejak tadi.
Chat dengan nama “Sif” masih ada di layar.
Belum ada pesan terkirim.
Hanya tulisan setengah jadi yang bahkan belum sempat selesai.
Thor tersenyum kecil.
Tipis. Lelah. Sedikit pahit.
Lalu perlahan menekan tombol lock screen dan memasukkan ponselnya ke saku.
Di luar, hujan masih turun seperti biasa.
Dan beberapa kenangan memang begitu.
Datang sebentar, menghangatkan hati, lalu pergi lagi tanpa benar-benar kembali.