Kembali
Cerpen — 28 Mei 2026

Ekspektasi

Ekspektasi

Katanya semakin dewasa, kita akan belajar untuk tidak berharap terlalu tinggi.

Tapi nyatanya, itu sulit.

Karena manusia selalu diam-diam berharap.

Thor juga begitu.

Awalnya sederhana.

Dia cuma senang ada seseorang yang selalu hadir di hari-harinya.

Chat kecil setiap pagi. Telepon random tengah malam. Cerita receh yang sebenarnya tidak penting.

Dan tanpa sadar, semua kebiasaan kecil itu mulai terasa seperti sesuatu yang “pasti”.

Padahal belum tentu.

Thor mulai terbiasa menunggu pesan.

Mulai terbiasa berharap.

Mulai berpikir: “Kayaknya dia juga ngerasa hal yang sama.”

Sampai akhirnya ekspektasi itu tumbuh terlalu besar.

Lucunya, semua itu tumbuh hanya di kepalanya sendiri.

Tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Tidak pernah benar-benar dipastikan.

Suatu malam hujan turun cukup deras.

Thor duduk sendirian di balkon apartemen kecilnya sambil melihat layar ponsel yang sedari tadi tidak menyala sama sekali.

Padahal biasanya perempuan itu akan mengirim pesan:

“Udah makan belum?”

atau sekadar:

“Hari ini capek banget.”

Hal kecil.

Tapi cukup untuk membuat Thor merasa dibutuhkan.

Malam itu tidak ada apa-apa.

Hanya suara hujan dan pikirannya sendiri.

Sampai akhirnya dia membuka Instagram.

Dan di situlah semuanya terasa aneh.

Perempuan itu mengunggah foto bersama seseorang.

Dengan caption sederhana:

“finally found my safe place.”

Thor diam cukup lama.

Aneh.

Padahal mereka tidak punya hubungan apa-apa.

Tidak ada status. Tidak ada janji. Tidak ada kepastian.

Tapi kenapa dadanya tetap terasa sesak?

Mungkin karena selama ini dia terlalu sibuk membangun harapan dari perhatian-perhatian kecil.

Padahal belum tentu perhatian itu punya arti yang sama.

Thor tertawa kecil sambil mematikan layar ponselnya.

Pahit.

Tapi lucunya dia sadar satu hal malam itu.

Kadang yang paling menyakitkan bukan kenyataan.

Melainkan ekspektasi yang kita bangun sendiri terlalu tinggi.

Ekspektasi bahwa seseorang akan tinggal.

Ekspektasi bahwa perhatian berarti perasaan.

Ekspektasi bahwa kedekatan pasti berujung bersama.

Padahal belum tentu.

Hujan masih turun di luar.

Thor menarik napas panjang lalu menyandarkan kepalanya ke kursi.

Untuk pertama kalinya, dia mulai belajar:

tidak semua hal baik harus dimiliki.

Dan tidak semua orang yang membuat nyaman ditakdirkan untuk menetap.

Related Articles

Cerpen