Bukan Sahabat
“Ada orang yang selalu kita anggap rumah, padahal bagi mereka kita cuma tempat singgah.”
Kalimat itu baru benar-benar dia pahami malam itu.
Mereka masih nongkrong seperti biasa. Meja yang sama. Candaan yang sama. Tawa yang sama.
Setidaknya dari luar terlihat begitu.
Dia masih ikut tertawa walau sebenarnya lebih banyak diam. Sesekali ikut nimbrung pembicaraan, lalu kembali jadi pendengar.
Sampai salah satu dari mereka berkata:
“Eh nanti kita jalan ya, yang kemarin.”
Dia bingung.
“Yang mana?”
Mereka saling menatap sebentar, lalu tertawa kecil.
“Oh iya, lupa lu nggak ikut.”
Kalimat sederhana.
Tapi anehnya terasa lebih sakit daripada yang seharusnya.
Dia cuma mengangguk pelan sambil tersenyum kecil, pura-pura biasa saja.
Padahal di dalam kepalanya mulai ramai.
Ternyata selama ini… dia memang tidak benar-benar ada di lingkaran itu.
Dia hanya hadir ketika mereka butuh ramai.
Bukan seseorang yang dicari ketika cerita hidup mulai berat.
Bukan orang pertama yang diingat saat ingin berbagi kabar baik.
Dan jelas bukan seseorang yang dianggap sahabat.
Malam itu sepulang nongkrong dia duduk sendiri di kamar. Lampu mati. Hanya cahaya monitor yang menyala redup.
Dia membuka galeri lama.
Foto-foto mereka masih ada banyak. Momen-momen yang dulu dia pikir akan jadi kenangan persahabatan panjang.
Ternyata tidak semua kebersamaan punya makna yang sama bagi semua orang.
Ada orang yang menganggap kita rumah.
Ada juga yang hanya menganggap kita tempat lewat.
Dan mungkin yang paling menyakitkan bukan kehilangan mereka.
Tapi menyadari kalau selama ini perasaannya sendirian.
Dia yang menganggap mereka sahabat.
Sementara bagi mereka, dia hanya “teman juga”.
Lucunya, setelah sadar akan hal itu, dia malah jadi tenang.
Karena akhirnya dia berhenti berharap lebih dari orang yang memang tidak pernah menaruh dirinya di tempat yang sama.
Kadang hidup memang begitu.
Tidak semua orang yang membuat kita nyaman akan menganggap kita penting.
Dan tidak semua kebersamaan berarti kedekatan.
Malam semakin larut.
Dia menutup galeri foto, mematikan layar monitor, lalu berbaring pelan.
Sedikit sakit.
Tapi setidaknya sekarang dia tahu satu hal:
lebih baik menerima kenyataan pahit, daripada terus hidup di hubungan yang hanya terasa dekat dari satu sisi.